Minggu, 20 November 2016

robby perikanan

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 6 No. 1, April 2014
55
PENGARUH PADAT TEBAR IKAN LELE TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN SURVIVAL RATE PADA SISTEM AKUAPONIK 
THE EFFECT OF STOCKING DENSITY ON SURVIVAL RATE AND GROW RATE OF AQUAPONIC SYSTEM 
Ongky Wijaya, Boedi Setya Rahardja dan Prayogo 
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo - Surabaya, 60115 Telp. 031-5911451 
Abstract 
Increasing consumption of catfish and dairy products encourage increased domestic production of catfish. During the period of 5 years (2005-2009), catfish production has been increased significantly with an average annual growth reached 32%. In 2008 production reached 114.371 tonnes and in 2009 production increased by almost 75% to about 200 thousand tons. Aquaponic is a bio-integration that links recirculating aquaculture principles to the production of crops / vegetables hydroponically (Diver, 2006). Aquaponic technology has proven to successfully produce an optimal fish on less land and limited water resources, including in urban areas (Ahmad, 2007). This study aims to find out the influences of catfish stocking density difference on the growth rate and survival rate of catfish on aquaponic. The experimental design used was completely randomized design (CRD). Analysis of the data processed using Analysis of Variance (ANOVA) to know whether there is influance the growth rate and survival rate between the treatment given. If there are significantly difference then proceed by Duncan's Multiple Range Test. Based on the research obtained the result that there are significant differences in the survival rate (p> 0.01) and there is a significant difference to the rate of growth (p> 0,01). From the results of statistical tests that have been done show that the highest survival rate is in treatment 4 (87.5333%) and the highest growth rate is in treatment 4 (30.5333%). The lowest Survival found in treatment 1 (53.134%). Lowest growth rate found in treatment 1 (16.6%). 
Keywords : Aquaponic, Catfish, Water Spinach  
Pendahuluan Ikan lele merupakan salah satu hasil perikanan budidaya yang menempati urutan teratas dalam jumlah produksi yang dihasilkan. Selama ini ikan lele menyumbang lebih dari 10 persen produksi perikanan budidaya nasional dengan tingkat pertumbuhan mencapai 17 hingga 18 persen. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), menetapkan ikan lele sebagai salah satu komoditas budidaya ikan air tawar unggulan di Indonesia. Tingginya angka konsumsi dalam negeri dan terbukannya pangsa pasar ekspor, memastikan komoditas ikan air tawar ini menjadi penyumbang devisa negara yang sangat menjanjikan. Ikan lele merupakan komoditas perikanan budidaya air tawar yang mempunyai tingkat serapan pasar cukup tinggi, baik di pasar dalam negeri maupun ekspor. Perkembangan produksi ikan lele selama lima tahun terakhir menunjukkan hasil yang sangat signifikan yaitu sebesar 21,82 persen per tahun. Kenaikan rata-ratanya setiap tahun sebesar 39,66 persen. Tahun 2010, produksi ikan lele meningkat sangat signifikan yaitu dari produksi
sebesar 144.755 ton pada tahun 2009 menjadi 242.811 ton pada tahun 2010 atau naik sebesar 67,74 persen. Adapun proyeksi produksi ikan lele nasional dari tahun 2010 hingga tahun 2014 ditargetkan mengalami peningkatan sebesar 450 persen atau rata-rata meningkatsebesar 35 persen per tahun yakni pada tahun 2010 sebesar 270.600 ton meningkatmenjadi 900.000 ton pada tahun 2014 (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2010). 
Materi dan Metode Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan, masing-masing perlakuan mendapatkan ulangan 5 kali. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini yaitu perbedaan jumlah padat tebar ikan lele yang diujikan yaitu P1 = 600 ekor, P2 = 500 ekor, P3 = 400 ekor, dan P4 = 300 ekor. Untuk kontrol (P0) menggunakan padat tebar 200 ekor. Sistem diadaptasikan selama satu minggu agar dapat merangsang pertumbuhan
Pengaruh Padat Tebar Ikan Lele......
56
mikroorganisme yang berperan dalam proses dekomposisi limbah nitrogen pada wadah pemeliharaan tanaman. Parameter penelitian yang diamati adalah kualitas air selama pemeliharaan. Kangkung disemai terlebih dahulu selama 2 minggu sebelum ditanam dalam media tanam pada sistem akuaponik. Tidak ada penanganan khusus selama masa pemeliharaan tanaman kangkung, hanya dilakukan pengawasan rutin agar tanaman kangkung terhindar dari hama dan predator. Analisa kualitas air dilakukan setiap hari sekali dengan parameter berupa Survival Rate, laju pertumbuhan, suhu, pH, DO (Dissolved Oxygen), amoniak, nitrit, dan nitrat. Sampel air yang dianalisa diambil dari bak pemeliharaan ikan lele. 
Hasil dan Pembahasan Data Survival Rate pada tiap perlakuan dapat di lihat pada lampiran. Dari hasil uji statistik yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkat Survival Rate tertinggi terdapat pada perlakuan 4 (P4= 300) yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (p>0,01). Tingkat Survival Rate terendah terdapat pada perlakuan 1.  
Tabel 1.  Rata-rata Survival Rate ikan lele pada berbagai tingkat padat tebar Padat Tebar (ekor) Rata-rata Survival Rate (%) PI (600) 53,134   c P2(500) 63,88     c P3(400) 71,35     b P4(300) 87,5333 a 
Data laju pertumbuhan pada tiap perlakuan dapat di lihat pada lampiran. Dari hasil uji statistik yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkat laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada perlakuan 4 (P4= 300) yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (p>0,01). Tingkat laju pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan 1. 
Tabel 2.  Rata-rata laju pertumbuhan ikan lele pada berbagai tingkat padat tebar Padat Tebar (ekor) Laju pertumbuhan (%) PI (600) 16,6       c P2(500) 20,2       c P3(400) 23,1333 b P4(300) 30,5333 a 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata terhadap tingkat Survival Rate (p>0,01). Perlakuan 1 (P1= 600) memiliki tingkat Survival Rate terendah, yaitu sebesar 53,134% , perlakuan 2 (P2= 500) sebesar 63,88%, perlakuan 3 (P3= 400) sebesar 71,35% dan tingkat Survival Rate tertinggi pada perlakuan 4 (P4= 300) sebesar 87,5333 %. Pada perhitungan ANAVA tingkat Survival Rate menghasilkan perbedaan yang nyata pada setiap perlakuan. Hal ini disebabkan Pada kondisi kolam dengan padat tebar yang tinggi, kualitas air kolam menjadi semakin buruk. Kandungan ammonia hasil metabolisme yang meningkat cenderung menyebabkan gangguan yang bersifat fisiologis dan memicu stress pada ikan (Boyd, 1990). Stres pada ikan mengakibatkan turunnya daya tahan tubuh dan menurunnya napsu makan sampai mengakibatkan terjadinya kematian (Effendi, 2003). Pada perlakuan 4 (P4= 300) memiliki tingkat Survival Rate yang paling tinggi   dan   pada   perlakuan   1   (P1=   600)   memiliki   tingkat   Survival Rate yang terendah disebabkan oleh kualitas air yang terbentuk karena perbedaan padat tebar pada volume bak pemeliharaan yang seragam. Aktivitas budidaya ikan tidak terlepas dari limbah yang dihasilkan, terutama dari sisa pakan, feses, dan hasil aktivitas metabolisme ikan. Pada sistem budidaya tanpa pergantian air (zero water exchange) seperti pada kolam air tenang, konsentrasi limbah budidaya seperti amonia (NH3), nitrit (NO2), dan karbon dioksida CO2 akan meningkat sangat cepat dan bersifat toksik bagi organisme budidaya (Surawidjaja, 2006).
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 6 No. 1, April 2014
57
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata terhadap laju pertumbuhan (p>0,01). Perlakuan 1 (P1= 600) memiliki tingkat Laju pertumbuhan terendah yaitu 16,6%, perlakuan 2 (P2= 500) sebesar 20,2%, perlakuan 3 (P3= 400) sebesar 23,1333% dan tingkat laju pertumbuhan tertinggi pada perlakuan 4 (P4= 300) sebesar 30,5333%. Pada perhitungan ANAVA tingkat laju pertubuhan menghasilkan perbedaan yang nyata pada setiap perlakuan. Hal ini disebabkan oleh kualitas air pada tiap perlakuan sangat bervariasi. Limbah budidaya ikan yang merupakan hasil aktivitas metabolisme banyak mengandung amonia (Effendi, 2003). Ikan mengeluarkan 80- 90% amonia (N-anorganik) melalui proses osmoregulasi, sedangkan dari feses dan urine sekitar 10-20% dari total nitrogen (Rakocy et al., 1992 dalam Sumoharjo, 2010). Akumulasi amonia pada media budidaya merupakan salah satu penyebab penurunan kualitas perairan yang dapat berakibat pada kegagalan produksi budidaya ikan. Pada perlakuan 4 (P4= 300) memiliki tingkat laju pertumbuhan tertinggi pada perlakuan 1 (P1= 600) memiliki tingkat laju pertumbuhan terendah disebabkan  oleh  kualitas  air  pada  tiap  perlakuan  tersebut  mempengaruhi  fungsi fisiologis ikan, seingga mempengaruhi laju pertumbuhan. Ammonia adalah hasil utama dari protein yang merupakan racun bagi ikan. Menurut Alabaster dan Lioyd (1980) dalam Boyd (1982), menyatakan bahwa pengaruh yang berbahaya dari ammonia yaitu berhubungan dengan nilai pH dan suhu air. Kandungan ammonia hasil metabolisme yang meningkat cenderung menyebabkan gangguan yang bersifat fisiologis dan memicu stress pada ikan (Boyd, 1990). Data parameter kualitas air selama penelitian dapat di lihat pada tabel 3.  Kualitas air merupakan salah satu faktor yang penting dalam pertumbuhan ikan. Selama penelitian berlangsung terdapat perbedaan yang sangat nyata pada nitrit, nitrat, amonia, DO dan pH. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan padat tebar ikan dalam tiap perlakuan. Perlakuan dengan padat tebar 600 (P1=600) memiliki nilai kualitas air yang paling buruk diantara perlakuan yang lain. Hal ini menyebabkan tingginya tingkat mortalitas dan rendahnya laju pertumbuhan ikan pada perlakuan 1 (P1= 600). Kualitas air terbaik terdapat pada perlakuan dengan padat tebar 300 (P4= 300). Hal ini berakibat pada tingkat mortalitas yang rendah dan laju pertumbuhan yang tinggi. 
Kesimpulan  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diketahui terdapat pengaruh yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan dan Survival Rate pada padat tebar yang berbeda. Perlakuan 1 (Pl= 600) memiliki tingkat Survival Rate terendah, yaitu sebesar 53,134% , perlakuan 2 (P2= 500) sebesar 63,88%, perlakuan 3 (P3= 400) sebesar 71,35% dan tingkat Survival Rate tertinggi pada perlakuan 4 (P4= 300) sebesar 87,5333 %. terdapat perbedaan yang nyata terhadap tingkat Survival Rate (p>0,01). Perlakuan 1 (Pl= 600) memiliki tingkat Laju pertumbuhan terendah yaitu 16,6%, perlakuan 2 (P2= 500) sebesar 20,2%, perlakuan 3 (P3= 400) sebesar 23,1333% dan tingkat laju pertumbuhan tertinggi pada perlakuan 4 (P4= 300) sebesar 30,5333%. terdapat perbedaan yang nyata terhadap laju pertumbuhan (p>0,01). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka melalui penelitian ini saran yang didapat yaitu : perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang filter sistem akuaponik. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bakteri pengurai nitrat dan nitrit dalam sistem akuaponik. 
Daftar Pustaka Afrianto, E dan Liviawaty, E, 1988. Beberapa Metode dan Budidaya Ikan. Kanisius. Jakarta
Tabel 3.  Nilai kisaran kualitas air media pemeliharaan selama 30 hari. Parameter PI (600) P2(500) P3(400) P4(300) P0(200) Nitrat (mg/1) 0,61772 0,51626 0,29442 0,24758 0,17386 Nitrit (mg/1) 0,7236 0,62514 0,39474 0,35212 0,26342 Amonia (mg/1) 0,60152 0,53084 0,3498 0,34684 0,25592 pH 5-7 6-8 6-8 7-8 7-9 DO (mg/l) 1-2 2-3 2-3 2-3 2-3 Suhu (UC) 26-28 26-27 26-28 27-28 26-28 
Pengaruh Padat Tebar Ikan Lele......
58
Ahmad T., Sofiarsih L., & Rusmana. 2007. The growth of Patin Pangasius hypopthalmus in a close system tank. Aquaculture. 2(1): 67-73. Alabaster, J. S. & Lloyd, R. (eds). 1980. Water Quality Criteria for Freshwater Fish.Boston   & London: Butterworths. Bachtiar, Y. 2006. Panduan Lengkap Budi Daya Lele Dumbo. AgroMedia Pustaka. Jakarta Bachtiar, Y. 2010. Buku Pintar Budi Daya & Bisnis Gurami. AgroMedia Pustaka. Jakarta Bartik, M. and A. Piskac. 1981. Veterinary Toxicology.Elservier Publishing Co., New York. 105 – 106. Blood, D.C. & Radostits, O.M. Veterinary medicine: a textbook of the diseases of cattle,sheep, pigs, goats and horses. London: Baillière Tindall; 1989. p. 760. Boyd, C. E. and F. Lichkoppler. 1979. Water quality management in pond fishculture. Auburn univ, Alabama, International for aquaculture. Agric. EXP. Station Research and Development series, 22: 30               

Sabtu, 05 November 2016

kerang mutiara

Budidaya Kerang Mutiara
Mutiara air tawar dan mutiara air laut adalah dua jenis kerang yang berbeda nilain dan kelasnya setelah dibuat perhiasan. Perhiasan mutiara lombok adalah handycraft unggulan Indonesia, komoditi ini telah terkenal di mancanegara sehingga memiliki potensi eksport yang tinggi. Mutiara lombok yang lebih langka daripada mutiara china atau tahiti ini sebetulnya memiliki kualitas yang jauh lebih baik, dikarenakan kondisi alam dan laut diperairan pulau lombok dan nusa tenggara yang masih bersih dan jernih, sehingga sangat ideal untuk pertumbuhan keranga mutiara.
Proses Pembentukan Mutiara & kaitannya dengan harga mutiara asliApakah anda ingin tau bagaimana cara budidaya kerang mutiara air laut dan mutiara air tawar serta tentang industri perhiasan mutiara lombok ? Artikel kali ini kita akan mengupas tuntas tentang cara budidaya kerang mutiara air laut dan mutiara air tawar di peterenakan kerang mutiara.

Cara Budidaya kerang Mutiara air laut dan Mutiara air tawar

Mutiara Lombok sangat indah dan langka, sehingga dianggap sebagai sebagai permata yang berharga. Mutiara tidak dibentuk oleh proses geologi seperti batu mulia dan semi mulia, tetapi mutiara adalah produk dari beberapa spesies kerang dan shell lainnya, secara resmi disebut kerang moluska.
Mutiara ini terbentuk ketika iritasi terjadi di dalam kerang mutiara dan bersarang di jaringan lunak di dalam cangkang kerang, untuk melindungi diri, tiram menghasilkan lapisan untuk iritasi. Lapisan ini disebut nacre. Nacre menumpuk di lapisan tipis yang menciptakan sampul warna-warni untuk menutupi iritasi tersebut.
Proses Pembentukan Mutiara & kaitannya dengan harga mutiara asliMutiara sangat dihargai oleh para penguasa dan orang orang kaya sejak dulu. mutiara bahkan telah dikiaskan sebagai hal yang sangat diinginkan, sejak dulu manusia sudah berusaha untuk mengembangkan teknologi penyelaman untuk mendapatkan mutiara ini. Cerita tentang mutiara juga berkembang di kehidupan rakyat sejak dulu, termasuk tentang mutiara di zaman cleopatra, zaman romawi, cerita rakyat jepang dan budaya lainnya.
Sejarah mutiara yang pernah tercatat:
  • Mutiara terbesar yang pernah ditemukan dalam sejarah kuno diketahui beratnya sekitar 454 karat dan kira-kira seukuran telur ayam.
  • Mutiara India bernama “La Peregrina,” spesimen sangat indah dalam bentuk dan kilaunya, memiliki berat 28 karat, milik Mary Tudor (ditempatkan di sebuah museum di Moskow sampai tahun 1960-an, kemudian dijual ke aktor Richard Burton untuk dijadikan  hadiah kepada istrinya pada saat itu, Elizabeth Taylor.
  • Pada tahun 1886, mutiara alami yang luar biasa dinamakan “Southern Cross Besar” ditemukan di sebuah tiram Australia (sembilan mutiara telah bersatu selama pembentukannya di alam sehingga menghasilkan gabungan sempurna sebesar 2,54 cm)
Cara Budidaya Kerang Mutiara
  1. Proses menanamkan induk kerang, biasanya indukan spesies kerang berasal dari kerang yang berbeda (termasuk kerang pigtoe Amerika dan kerang papan cuci), atau kerang yang berasal dari mississipi, atau kerang yang berasal dari perairan irian jaya (papua).
  2. Proses berikutnya persilangan antara kerang. Tiram-tiram tersebut akan mengeluarkan lendir seperti ludah, dan bayi tiram akan lahir di penetasan (hatchery) serta tumbuh dalam tangki di peternakan mutiara, untuk kemudian setelah berumur 60 hari akan dibudidayakan di perairan laut. Setelah kerang berumur kuat dan besar (dapat mencapai 3 tahun didalam air laut) Kerang kerang mutiara ini telah siap untuk di operasi (ditanamkan nukleus)
  3.  Untuk menanamkan inti (nukleus), tiram dipindahkan dari perairan laut menuju “ruang operasi” peternakan mutiara dan diikat menjadi satu di rak.
  4. Mutiara yang unggul diseleksi dan dipisahkan untuk kemudian cangkangnya dibuka sedikit, kemudian biji nukleus dimasukkan saat kerang/shell tetap terbuka. Selanjutnya dilakukan penyayatan (cut) dibuat dalam tubuh tiram, dan nukleus dimasukkan bersama dengan potongan kecil dari mantel tiram yang lain yang dikorbankan untuk proses ini.
  5. Maksud dari memasukkan mantel dari tiram lain ini akan merangsang produksi nacre yang diekskresikan oleh mantel dari kerang mutiara inang (induk).
  6. Tiram ini kemudian dikembalikan ke air laut dengan merangkai mereka pada kerangka yang telah disiapkan dan menempatkan mereka dalam keranjang tiram yang diikat dari rakit apung.
  7. Saat tiram hidup didalam air laut, mereka akan membentuk lapisan lapisan mutiara dari waktu ke waktu yang berfluktuasi dan berkaitan erat dengan suhu air dan kondisi lainnya.
  8. Lapisan berpori di kerang mutiara akan membentuk conchiolin sekitar nukleus dan di bawah nacre itu. Nacre ini terdiri dari lapisan mikro berbentuk khusus khusus dari mineral kalsium karbonat yang disebut aragonit. Lapisan lapisan tipis mikroskopis ini akan yang membuat mutiara budidaya merasa kasar ketika mereka di tes gesek pada gigi (untuk membedakan butiara imitasi dan yang asli alami. Mutiara imitasi akan sangat halus seperti plastik, sedangkan mutiara alami terasa agak kasar saat di gigit di gigi)
  9. Kerang mutiara akan dipanen beberapa waktu kemudian tergantung keinginan berapa besarnya diameter mutiara yang diinginkan. Di musim dingin saat air dingin memperlambat produksi nacre justru akan menciptakan warna terbaik, kilau, dan orientasi, yang merupakan kemampuan mutiara untuk memantulkan cahaya .Waktu budidaya biasanya berkisar antara satu sampai tiga tahun, dan kemajuan pertumbuhan mutiara di dalam tiram dapat dimonitor dengan sinar x.
  10. Pengambilan Mutiara adalah dengan cara memotong dagingnya dengan hati-hati, sehingga kerang yang sama tidak mati dan bisa dibudidayakan kembali (reseed) beberapa kali untuk menghasilkan mutiara yang lebih besar sebagai tiram terus tumbuh. Mutiara diekstraksi selanjutnya diproses untuk dijual. Biasanya, mutiara yang berkualitas tinggi dijual dalam jumlah besar, atau dilelang yang diatur oleh pemerintah.
  11. Dari penjualan lelang, mutiara berpindah tangan ke pengrajin mutiara seperti dan dibuat perhiasan untuk diperdagangkan di industri perhiasan di dalam negeri dan untuk market eksport.
Industri budidaya kerang mutiara diprediksi akan berkembang pesat dimasa depan, jika anda ingin melihat lihat koleksi perhiasan mutiara lombok berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, silahkan langsung kunjungi Miss Joaquim Pearls , selamat berbelanja dan add pin BBM kami: 3227CF53 . Miss Joaquim Pearls menyediakan mutiara air laut dan mutiara air tawar yang semuanya berkualitas tinggi dan berkelas.

melatih bukan mengajar

MELATIH BUKAN MENGAJAR

Ditulis oleh Mastaka, S.St.Pi on


OLEH : MASTAKA, S.St.Pi
INSTRUKTUR BPPP BANYUWANGI.
Banyuwangi, 13 September 2016.

Dalam dunia pendidikan sudah sangat biasa dengan istilah mengajar, mendidik dan melatih. Karena ketiga istilah itulah yang sesungguhnya menjadi tanggungjawab pengajar, pendidik, dan pelatih. Pendidikan formal dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama sampai menengah atas hanya dikenal istilah “guru”. Pada perguruan tinggi disebut dosen. Sedangkan pada kegiatan pelatihan orang yang bertugas memberiukan peningkatan keterampilan pada peserta yang dilatihnya disebut dengan pelatih.
Pendidikan formal menitik beratkan pada istilah pengajaran dan pendidikan sedangkan istilah pelatihan ada pada bidang kepelatihan, yaitu pendidikan yang bersifat sangat singkat untuk meningkatkan keterampilan peserta yang dilatih. Oleh karena itu istilah melatih (pelatihan) bukan tanggungjawab utama seorang guru di sekolah formal, walaupun demikian memang tetap masih ada unsur melatihnya tetapi tidak menjadi tujuan utama.
Untuk lebih mengetahui perbedaan antara mengajar, mendidik dan melatih dapat dijelaskan sebagai berikut. Kegiatan mengajar adalah suatu usaha untuk merubah perilaku (pengetahuan, keterampilan, sikap) peserta yang dididik lebih khusus pada peningkatan pengetahuan (kognitif). Sebagai gambaran yang sederhana adalah peserta didik yang semula tidak tahu menjadi tahu setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran dari guru. Perilaku yang ada pada manusia dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (attitude).
Dalam bidang kediklatan (pendidikan dan pelatihan) yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pelatihan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun yang diselenggarakan oleh non pemerintah (pihak swasta) tujuan utamanya bukan lagi meningkatkan pengetahuan tetapi lebih khusus pada peningkatan keterampilan seseorang. Dari semula tidak bisa mengerjakan setelah dilatih atau mengikuti kegiatan pelatihan orang menjadi terampil menjadi bisa mengerjakan sesuatu yang dipelajarinya.
Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan di bawah Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Pemeberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan Kemeterian Kelautan dan Perikanan bertugas untuk melatih masyarakat kelautan dan perikanan. Dengan dengan demikian setiap gerak langkah yang dikerjakannya adalah meningkatkan keterampilan serta sikap para peserta pelatihan.
Para Instruktur dan Widyaiswara bukan seorang hanya sebagai pengajar tetapi sesunggunhya adalah seorang pelatih yang memiliki tugas untuk merubah perilaku masyarakat kelautan dan perikanan yang mengikuti kegiatan pelatihan dalam hal keterampilannya (skill/psikomotor).
1

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aaparatur Negara Nomor : 36/KEP/M.PAN/3/2003 dapat dilihat perbedaan yang sangat jelas antara mengajar dan melatih sebagai berikut :
Mengajar adalah suatu proses interaksi edukatif antara peserta, instruktur dan lingkungan dengan metoda pengajaran tertentu yang pelaksanaannya lebih mengutamakan toeri daripada praktek serta diarahkan pada upaya pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Sedangkan melatih adalah keseluruhan kegiatan untuk memberikan, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan ketremapilan, produktivitas, disiplin, sikap kerja, dan etos kerja pada tingkat keterampilan tertentu berdasarkan persyaratan jabatan dengan metoda pelatihan tertentu yang pelaksanaannya lebih mengutamakan praktek daripada teori.
Jadi sudah sangat jelas bahwa tugas dan tanggungjawab sebagai pelatih adalah meningkatkan (merubah) keterampilan seseorang yang semua tidak mampu berbuat sesuatu setelah dilatih dalam waktu dan kurikulum tertentu akhirnya bisa melakukan sesuatu dengan sangat baik yang biasa disebut dengan istilah terampil. Kegiatan atau interaksi antara peserta pelatihan dengan pelatih biasanya disebut dengan proses berlatih-melatih bukan belajar-mengajar.
Dengan demikian untuk mengetahui keberhasilan proses berlatih-melatih atau dengan kata lain untuk mengetahui efektivitas proses berlatih-melatih dapat dilihat dari pencapaian tujuan khususnya. Jika di akhir proses berlatih-melatih peserta masih tidak mampu melakukan sesuatu ketermpilan yang telah dilatihkan maka artinya proses berlatih-melatih tidak berhasil atau gagal.
Agar kegiatan yang dilakukan pelatih tidak mengalami kegagalan maka sebelum melakukan proses berlatih-melatih harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk kelancaran proses berlatih-melatih seperti ; menentukan tujuan khusus pelatihan, bahan pelatihan (media) teknik dan cara melatih (metoda), serta bahan-bahan yang dibutuhkan pada saat kegiatan praktek.
Jika semuanya telah disiapkan jauh hari sebelum pelaksanaan pelatihan dan pelatih telah menguasai apa yang akan dilatihkannya itu sudah merupakan keberhasilan awal. Sehingga pada saat pelaksanaan tidak mengalami kendala yang berarti. Dapat pula dipastikan setelah selesai berlatih peserta akan berubah khususnya dalam hal keterampilannnya. Dari yang semula tidak bisa apa-apa setelah dilatih dapat melakukan apa yang telah dipelajarinya.
Selamat Melatih.


SOP KEBERSIHAN KAMAR DI KAMPUS BAPPL SERANG

1.     Menjaga kebersihan kamar dengan menyapu & mengepel lantai kamar
2.     Membuang sampah pada tempat sampah masing-masing kamar & dan dilarang membuang sampah didepan pintu kamar.
3.     WAJIB  memasang sprei (bersih dan kencang) saat asrama ditinggalkan waktu kuliah & belajar malam.
4.     WAJIB memiliki stela gantung didalam masing-masing lemari pakaian & kipas angin.
5.     Membersihkan kipas angin jika sudah kotor.
6.     DILARANG menggatung pakaian diluar lemari pakaian saat kamar ditinggalkan.
7.     Menjaga barang-barang berharga didalam kamar dengan mentimpan & memasukkan dilemari pakaian.
8.     Mematikan lampu, kipas & peralatan listrik lainnya saat tidak dipergunakan terutama saat kamar ditinggalkan.
9.     DILARANG mencoret & memasang paku didinding maupun pada inventaris tang ada dikamar.
10.                        WAJIB menjaga & memelihara inventaris yang ada dikamar.
11.                        WAJIB memiliki tempat sampah pada masing-masing kamar.